Langsung ke konten utama

Postingan

Ranting Yang Patah

Hal penting apa yang dapat menyejukkan hatiku, kalau saja kau sukarela ikhlas turunkan hujan. Bahkan bolehkah aku meminta, padahal aku tau keinginanku takkan mungkin kau penuhi.  Keinginanku yang itu, yang takkan pernah bisa kau beri. Sakitku yang itu, yang kau tau dan tak bisa menyembuhkannya padahal tau caranya.  Bagimu menyembuhkanku, akan melukaimu. Menyembuhkanku akan membuatmu menderita. Lantas .. kau biarkan aku yang perih sendirian. Kau tau tapi menutup mata. "Katanya" kau merasakan sakitku juga, tapi hanya dirimu yang bisa baik-baik saja bertahan dengan itu. Aku ... Sebagai aku akan merasakan hal sakit itu sendirian. Kau sebagai penontonnya. Memberiku makanan yang lezat tanpa memberikan obat. Kau mengerti tapi belum tentu kau akan memahami sehingga bisa merasakan jua. Sakitku ini, apa kau perduli? Perdulimu itu, akankah kau mengobatiku?
Postingan terbaru

Lelah dan Bertahan

Sudah pukul berapa aku masih mendengarkan lagu yang menyayat hati? Harusnya aku sudah memejamkan mataku dan beristirahat untuk kerja esok hari. Teringat tahun lalu saat aku melepaskan orang yang aku tangisi, pernah aku cintai. Rasa itu amat menyakitkan bila diingat. Berjua pun belum pernah tapi sudah sebegitunya menyayangi, hingga harus dilepas juga.  Perasaan bersalah terhadap hati sendiri tak kunjung terhenti, aku merasa diri ini tak pantas memiliki tambatan hati dan bahagia, tak pantas diperjuangkan sebegitu seriusnya. Hingga berkali-kali tersakiti dan dikhianati. Namun selang beberapa detik, aku faham bahwa semua anggapanku salah.  Aku tak pernah berdoa pada Tuhan untuk segera ditemukan sosok yang mampu menggantikan posisinya, aku hanya berdoa segeralah Tuhan sembuhkan lukaku kala itu. Namun caraNya memang tak bisa ku baca, dengan salah satu hambaNya dibantu aku menyembuhkan lukaku. Payahnya memang aku tak sulit merasa jatuh cinta, dan tak dipungkiri aku juga ternyata tak ...

Terimakasih Cinta

Aku benar2 tidak menyangka bahwa ketidaksengajaanku berkenalan denganmu lewat jejaring sosial media, kini telah membungkam hatiku tentangmu. Masalahnya aku tak yakin akan mampu menepis bayangmu. Karena kehilanganmu kini sangatlah membuatku sakit.. perih ini harus kurasakan juga ternyata. Benar katamu, untuk berani jatuh cinta juga harus bisa terima konskwensinya kehilangan dan sakit hati.. Terimakasih pernah menjadi tempatku berpulang meski sebentar, dan gagal. Dan pernah menjadi orang yang amat kucintai. Meski berat mengikhlaskanmu, tapi akan aku usahakan. Dengan sisa serpihan patah hati yang menyayat kulit hatiku, aku yakin aku mampu. Kini bila dingin menyerang tubuhku, aku harus mampu memeluk diriku seorang diri. Tak bisa lagi berlari kearahmu dan meminta kehangatan. Ini sangat membuatku sedih. Sebegininya mencintaimu, dan tak terkira rasanya benar2 pedih ketika harus melepasmu.

Aku tak ingin kamu kembali

Hati-ku tlah disinggahi banyak hati, Kemudian semua dari mereka pergi, Seperti tamu sementara.. sempat membuatku tertawa, bahkan sampai menangis Untungnya mereka tidak menetap, Kalau iya, bisa mati sebelum waktunya aku.. bertahan dengan Sisa puing hati ini memang cukup berat untukku. Seperti yang kemarin, seperti kamu.. Kehilanganmu sangat menyakitkan, bagaimana tidak? Karena kemarin aku benar2 telah menjatuhkan harapan cintaku sejatuh-jatuhnya padamu. Sampai aku buta, dan lupa bahwa kamu tidak menetap dan hanya sementara untuk singgah. Aku harusnya sudah faham setelah perpisahan pertama kita kala itu, alam sudah cukup membuktikan bahwa kamu sedang bercanda padaku. Tapi malah aku kekeuh, bahwa kamu masih menginginkanku. Akhirnya aku sendiri yang terlukai, bersimbah darah. Lukaku menganga, dan aku berharap aku segera mampu menutupnya, entah seorang diri atau ada yang menemani. Tapi aku yakin, bila Tuhan tak mampu membiarkanku bangkit sendirian, pasti ia akan segera kirimkan mal...

Luka yang kucintai

Kenapa untuk rindu saja sangat menyiksa? Kenapa untuk menyayangi saja perlu banyak dusta? Aku tak tau letak kesalahannya disebelah mana, Kali ini pada siapa aku akan bertanya? Tentang segala perasaan yang patut dipertahankan Atau segala sakit yang perlu dirasakan? Pada siapa aku bertanya? Apakah aku akan siap terus begini? Mencintai ketidakpastian? Seolah menggenggam angin yang tak terlihat, namun dapat dirasa Angin yang tak berwarna, namun amat menyejukkan Bolehkah aku mencintaimu sepenuh hatiku? Dan kamu membalas itu sesuai apa mauku? Ya aku tau ini egois Padahal aku pernah berkata pada temanku Bahwa dalam hal mencintai, kita tak boleh setitikpun egois Mencintai hak kita, begitupula dalam hal ia mau membalas atau tidak Semua punya hak masing-masing dalam dirinya apalagi hatinya Semua punya porsi masing2, mencintai atau dicintai. Disakiti atau menyakiti. Aku ingin bertanya lagi, Kapan perih ini usai? Bisakah aku terus bertahan? Mencintai luka ini...

Dari semalam

Jika saja aku tak merasakan kantuk yang luar biasa, Mungkin aku sudah menuliskan ini dari semalam, Ada beberapa patah kata yang kutuliskan semalam sebagai penghantar tidurku, bukan dengan mendengarkan lagu seperti biasa untuk mengiringi tidurku, aku malahsedikit  menuliskan curahan hatiku lewat kata. Cuaca pagi ini mendung, gerimis hujan tadi membasahi tubuhku yang lepas demam ini. Semoga saja tubuhku kembali membaik karena nyatanya sakit ditanah rantau itu amat menyiksa. Tapi sebab orang2 yang masih menyayangiku, rasa tekad untuk lekas sembuh ini sangat kuat. Aku tak ingin memanjakan tubuhku, aku harus sembuh. Selain itu tanpa aku hiraukan, mungkin seonggok hati didalam tubuhku ini juga perlu disembuhkan dari segala hal yang membuatku merasa perih. Tak apa aku akan pelan2 melakukannya dengan berdamai menghadapi segala kebahagiaan dan keperihan yang diberikan oleh kekasihku sekarang. Seperti kata-kataku postingan sebelumnya, aku benar belum pernah berjua dengannya. Sampai deti...

Bantu aku mengeja namamu, sekali saja.

Belakangan ini ... Disetiap penghujung malamku, sebagai penghantar tidur.. Aku sedang tidak tau harus mendengar lagu dengan judul dan tema apa. Ingin kudengar lagu bertemakan jatuh cinta, namun ketakutanku akan perubahan signifikanmu seperti kemarin membuatku mengurungkan niat mendengarkannya. Ingin kudengar lagu bertemakan menyedihkan tapi, ada hal-hal kecil yang mampu membuatku bahagia sebab dirimu. Aku.. seperti jatuh cinta  yang berbaring diatas aspal, kulihat indahnya langit tapi dengan bodohnya aku melupakan kenyataan bahwa aspal ini akan membakar habis punggungku, sebab panasnya sengatan matahari.  Aku melupakan kenyataan bahwa, akan ada malam tiba atau bahkan? Akan ada badai hujan yang datang. Memungkinkan aku berfikir kemana nanti aku akan berteduh?. Langit tak selamanya indah dipandang bukan?. Sama seperti perasaan ini, bahagianya takan selalu seperti ini. Dicintai olehmu, seperti ini rasanya.. membuatku kaku menuliskan segala kata. Dan ketika kamu melukaiku, ing...