Hal penting apa yang dapat menyejukkan hatiku, kalau saja kau sukarela ikhlas turunkan hujan. Bahkan bolehkah aku meminta, padahal aku tau keinginanku takkan mungkin kau penuhi. Keinginanku yang itu, yang takkan pernah bisa kau beri. Sakitku yang itu, yang kau tau dan tak bisa menyembuhkannya padahal tau caranya. Bagimu menyembuhkanku, akan melukaimu. Menyembuhkanku akan membuatmu menderita. Lantas .. kau biarkan aku yang perih sendirian. Kau tau tapi menutup mata. "Katanya" kau merasakan sakitku juga, tapi hanya dirimu yang bisa baik-baik saja bertahan dengan itu. Aku ... Sebagai aku akan merasakan hal sakit itu sendirian. Kau sebagai penontonnya. Memberiku makanan yang lezat tanpa memberikan obat. Kau mengerti tapi belum tentu kau akan memahami sehingga bisa merasakan jua. Sakitku ini, apa kau perduli? Perdulimu itu, akankah kau mengobatiku?
Sudah pukul berapa aku masih mendengarkan lagu yang menyayat hati? Harusnya aku sudah memejamkan mataku dan beristirahat untuk kerja esok hari. Teringat tahun lalu saat aku melepaskan orang yang aku tangisi, pernah aku cintai. Rasa itu amat menyakitkan bila diingat. Berjua pun belum pernah tapi sudah sebegitunya menyayangi, hingga harus dilepas juga. Perasaan bersalah terhadap hati sendiri tak kunjung terhenti, aku merasa diri ini tak pantas memiliki tambatan hati dan bahagia, tak pantas diperjuangkan sebegitu seriusnya. Hingga berkali-kali tersakiti dan dikhianati. Namun selang beberapa detik, aku faham bahwa semua anggapanku salah. Aku tak pernah berdoa pada Tuhan untuk segera ditemukan sosok yang mampu menggantikan posisinya, aku hanya berdoa segeralah Tuhan sembuhkan lukaku kala itu. Namun caraNya memang tak bisa ku baca, dengan salah satu hambaNya dibantu aku menyembuhkan lukaku. Payahnya memang aku tak sulit merasa jatuh cinta, dan tak dipungkiri aku juga ternyata tak ...